HADITS TENTANG BAI’AT

22 Des

Tanya: Dalam sebuah hadits ada dinyatakan: “Barangsiapa yang mati dan tidak ada bai’at di atas pundaknya (kepada kholifah), maka ia telah mati dalam keadaan jahiliyah.”  Mohon penjelasan tentang maksud hadits tersebut!


Jawab: Hadits tersebut lengkapnya adalah: “Man khola’a yadaa min tho’ati laqiyallohu yaumal qiyaamati laa hujjata lahuu waman maa ta walaisa fii ‘unuqihi bai’atun maata miitatun jaahiliyyata”

artinya: “Barang siapa yang melepaskan tangan dari keta’atan, ia akan bertemu dengan Alloh pada hari kiamat tidak mempunyai hujjah, dan siapa yang mati yang tidak ada pada pundaknya bai’at (menentang bai’at yang sah) maka ia mati seperti yang mati di zaman jahiliyah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan derajat shohih. Adapun maksudnya: Di negara Islam apabila umat atau rakyat telah bersepakat seia sekata mengangkat seorang kholifah (imam), kemudian ada orang atau kelompok yang tidak setuju. Mereka berusaha menggulingkan kholifah tersebut yang akibatnya mengakibatkan huru hara antar mereka, maka orang yang mati akibat kerusuhan tersebut tidak beda dengan mati di zaman jahiliyyah, artinya tidak ada undang undang , tidak ada hukum, bukan berarti mati dalam keadaan kafir seperti pemahaman sepintas tapi matinya seperti matinya orang jahiliyyah.

Mietatan bukan maitatan, beda pelafazannya dan beda pula artinya. Maytatan jahiliyyatan, mati kafir seperti orang jahiliyah. sedangkan miytatan menunjukkan sifatnya. Macam matinya semacam orang mati di zaman jahiliyyah, sebab tidak ada pemimpin yang ditaati semua pihak.

Dalam kitab An – Nihayah diterangkan arti hadits tersebut, “Keluar dari taat kepada sulthannya dengan melakukan pelanggaran kejahatan” (An-Nihayah 1 :313).

Hadits di atas mengandung arti anjuran dan nasihat bahwa umat (rakyat) harus sabar apabila melihat sesuatu yang tidak disukai dari tindakan imam atau amir terpilih, sesuai dengan anjuran Rosululloh saw: “Barang siapa yang melihat dari amirnya sesuatu yang tidak ia setujui, hendaklah ia bersabar (jangan berontak dengan mengacau atau menggunakan kekerasan). Sesungguhnya tidak ada yang memisahkan diri dari al-jamaah walaupun sejengkal, kemudian ia mati karenanya, maka ia mati seperti orang yang mati di zaman jahiliyyah.” (HR Bukhoriy-Muslim)

Kesimpulannya bila permusyawaratan “al-jamaah” para utusan rakyat yang mendapat kepercayaan yang terdiri atas para ahli yang dibutuhkan negara telah sepakat bersama berusaha membatalkan bai’at yang sudah sah, yang akibatnya dapat membangkitkan kekacauan, sebab orang yang mati  dalam kekacauan seperti itu sifat matinya seperti orang yang mati di negara yang kusut pemerintahannya seperti kekalutan di zaman jahiliyyah. Walloohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: